Serang, 08 September 2023. Selama 40 Hari KUKERTA Kolobarasi Internasional Thailand telah dilewati dengan penuh kesan dan cerita. Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten yang terpilih menjadi peserta KUKERTA Kolaborasi Internasional Thailand setelah melewati seleksi tingkat fakultas sampai pada akhirnya di tingkat universitas mereka terpilih mewakili Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat di Thailand. Perjalanan pengabdian kepada masyarakat di Thailand ini merupakan kerjasama antara Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten dengan Asotiation of Education Cultural International (AECI), berikut adalah segelintir pengalaman yang mereka torehkan di Thailand oleh Putri Sofiyani (Perbankan Syariah), Suvi Arrifatu Zein (Tadris Bahasa Inggris), Nuraeni (Tadris Bahasa Inggris) , Siti Aisyah (Ilmu Al-quran dan Hadits), Annisa Cikal Mujahidah (Tadris Bahasa Inggris) di Thailand.
Putri Sofiyani (Sekolah Muslim Santitham Foundation)
Ketika matahari terbit di ufuk timur Thailand Selatan, kebahagiaan merayap dalam hatiku. Sebuah perjalanan yang penuh makna dimulai, mengantarkanku ke negeri Thailand yang indah. Perasaan bahagia yang tak tergantikan hadir karena saya diberi kesempatan untuk bergabung dalam sekolah pesantren muslim dan berbagi ilmu bersama teman sejawat dari kampus kami.
Dalam kegiatan pengabdian saya di sana, saya mengajar bahasa Inggris untuk siswa tingkat Matthayom (menengah). Saya merasa bangga dan senang, meskipun sering kali harus mengajar tanpa pendamping. Jadwal fleksibel memberi saya kesempatan untuk menggantikan guru yang berhalangan hadir, memberikan pengalaman yang berharga dalam mengelola kelas dan menghadapi tantangan pendidikan yang berbeda.
Namun, yang membuat perjalanan ini begitu berarti adalah keterlibatan saya dalam berbagai kegiatan sekolah. Saya selalu diikutsertakan dalam semua aktivitas, mulai dari perayaan dalam sekolah seperti Hari Olahraga Nasional yang penuh semangat dengan parade dan lomba besar yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut, hingga saat libur sekolah di mana saya mendampingi siswa dalam pelatihan dan lomba yang diselenggarakan pada hari Sabtu dan Minggu. Bahkan, kami juga memiliki kesempatan untuk berwisata ke pantai dan situs bersejarah lainnya.
Salah satu pengalaman paling berharga selama KUKERTA ini adalah ketika saya diundang menjadi pembicara dalam pelatihan guru Fardhu Ain. Dihadapan 280 guru, ulama, pemerintah lokal, dan para siswa, saya berbagi pengetahuan dan pengalaman saya. Rasa syukur mendalam menyelimuti diri saya. Saya merasa terhormat dan berperan penting dalam seluruh aktivitas sekolah. Keberadaan saya dihormati dan diapresiasi, tidak hanya dalam bentuk penghargaan dan uang saku sebesar 3000 Bath yang saya terima, tetapi juga dalam bentuk dukungan emosional dan kehangatan hati yang mereka berikan.
Selama perjalanan ini, saya selalu diajak untuk makan bersama, dibelikan oleh-oleh, dan merasakan kehangatan keluarga besar sekolah. Pengalaman ini telah mengubah pandangan saya tentang pengabdian dan kerja sama Internasional. Saya merasa terinspirasi oleh semangat dan tekad siswa-siswa di Thailand dalam mengejar pendidikan mereka, serta terharu oleh keramahan dan kerja sama dari seluruh siswa, guru, manager, bahkan kepala sekolah.
KUKERTA kolaborasi Internasional di Thailand telah merubah pandangan saya tentang dunia. Saya tidak hanya menjadi guru, tetapi juga teman, pembelajar, dan penghubung antara budaya. Pengalaman ini memberikan cahaya pada bagaimana pendidikan dapat menjadi jembatan untuk memahami perbedaan dan merayakan persatuan. Semua itu telah membentuk pengalaman yang rumit dan mendalam dalam perjalanan pengabdian saya, yang akan selalu saya pandang sebagai bab yang penuh warna dan berharga dalam hidup saya.
Suvi Ariffatu Zein (Sekolah Banhuaysiet Krabi)
Saya memiliki pengalaman yang luar biasa selama KKN di Thailand pada bulan Juli-Agustus 2023. Perjalanan dimulai dari kampus UIN SMH Banten pada jam 10 malam, dan Saya berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta. Proses check-in berjalan lancar, dan Saya lepas landas pada jam 3 pagi. Setelah transit singkat di Bangkok pada jam 6 pagi, Saya melanjutkan perjalanan dan tiba di Krabi Airport pada jam 8.
Sesampainya di Thailand, Saya segera diajak untuk makan bersama dan melakukan pembukaan kegiatan di AECI, yang berlangsung hingga jam 18 wib. Setelah itu, Saya dibawa ke tempat penempatan masing-masing. Malam harinya, Saya diajak makan malam ke restoran halal dan berbelanja kebutuhan di Lotus.
Keesokan harinya, Saya memulai kegiatan perkenalan dan mengajar di SD Banhuaysiet School, yang terletak di Khao Panom District. Respons dari anak-anak dan guru sangat positif, dan anak-anak begitu antusias dalam belajar bahasa Inggris melalui berbagai metode kreatif.
Selama KKN di Thailand, Saya memiliki pengalaman mengajar di 11 kelas yang berbeda, termasuk kelas 3, 5, dan 6 di SD Banhuaysiet School. Pengalaman ini memungkinkan Saya untuk mengembangkan berbagai metode pengajaran sesuai dengan tingkat pemahaman siswa, dan melihat perkembangan pesat dalam kemampuan bahasa Inggris mereka. Selain itu, Saya juga berpartisipasi dalam berbagai kegiatan budaya dan kunjungan ke tempat-tempat penting di Thailand, yang semuanya telah memperkaya pengalaman KKN Saya dan membuka wawasan tentang dunia pendidikan dan budaya di Thailand. Saya juga berkesempatan mengenal lebih dekat budaya Thailand dengan mengikuti berbagai acara seperti Buddhist Lent Day dan Mother’s Day. Saya juga diajak mengunjungi dua universitas, yaitu Surat Thani University dan Prince of Songkala University. Selain itu, Saya menjelajahi tiga pantai yang indah, termasuk Fossil Beach, Aonang Beach, dan Phudam Beach. Pada peringatan 17 Agustus, Saya mengadakan perlombaan bahasa Inggris bagi siswa, yang menjadi momen berkesan. Saya juga berkontribusi dalam penggunaan media digital untuk pembuatan materi pembelajaran.
Saat tiba waktunya untuk pulang, anak-anak di sekolah sangat sedih dan memberikan Saya berbagai macam hadiah. Para guru juga sangat ramah dan memberikan Saya makanan dan uang saku sebagai ungkapan terima kasih. Saya diantar kembali ke AECI untuk penutupan kegiatan. Selanjutnya, Saya melanjutkan perjalanan pulang menggunakan bus melalui jalur darat menuju Malaysia. Saya mengunjungi beberapa tempat menarik di Malaysia, termasuk Istana Teptaro (rumah kayu dengan berbagai jenis bentuk dari kayu) dan Istana Negara Malaysia.
Saya kembali ke Indonesia melalui Bandara Kuala Lumpur dan tiba di Soekarno-Hatta pada tanggal 23 Agustus. Pengalaman KKN di Thailand ini telah memberikan banyak kenangan tak terlupakan dan pelajaran berharga tentang budaya, pendidikan, dan kerja sama lintas budaya. Terima kasih kepada semua yang telah mendukung dan membuat pengalaman ini begitu berarti bagi Saya.
Nuraeni (Sekolah Banhuaysiet Krabi)
Pada program Kukerta Kolaborasi Internasional di Thailand kali ini, saya bersama satu teman saya yang lain ditugaskan di sekolah umum Thailand dengan mayoritas warga sekolahnya memeluk agama Budha. Saya ditempatkan di salah satu sekolah dasar yang terletak di Khao phanom district, Krabi, Thailand. Hari pertama sampai di Thailand setelah acara pelepasan yang diselenggarakan di Ekhapap sasanawit Islamic School, saya langsung dijemput oleh para guru dari Banhuaysiet School. Mereka menerima kami dengan sangat baik meskipun dengan perbedaan yang ada. Kami dibantu untuk membeli paket internet, dan bahkan mengajak kami untuk makan malam bersama di sebuah warung makan muslim.
Selama di Thailand, kami ditempatkan disebuah rumah yang terletak tidak jauh dari sekolah. Rumah tersebut sudah dilengkapi dengan fasilitas alat-alat elektronik seperti kulkas, kompor listrik, penanak nasi listrik dan lain-lain. Tak hanya fasilitas, kami juga diajak untuk berbelanja kebutuhan pokok pangan terlebih dahulu sebelum menuju rumah. Tinggal di lingkungan dengan mayoritas non-muslim mengharuskan saya untuk berhati-hati selama berada disana karena banyaknya anjing yang berkeliaran. Namun hal tersebut tidak terlalu menjadi masalah yang besar.
Hari pertama datang ke sekolah, saya disambut dengan baik oleh para guru dan siswa. Meski keterbatasan Bahasa, saya berusaha untuk tetap berkomunikasi dengan mereka. Untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah, saya mulai mengeksplor sekolah banhuaysiet. Sekolah ini sangat besar dengan fasilitas teknologi yang sangat cukup bagi ukuran sekolah dasar. Luasnya mungkin berkali-kali lipat dari sekolah dasar yang ada di Indonesia. Karena mayoritas warga sekolah non-muslim maka kamipun ternyata harus berhati-hati dengan anjing yang berkeliaran di lingkungan sekolah.
Saya ditugaskan mengajar Bahasa inggris di kelas 2, 4, dan 6. Pada hari pertama, saya langsung mulai mengajar di kelas 4/1 dengan didampingi oleh guru mata Pelajaran. Dengan fasilitas yang selengkap itu, ternyata para guru disana masih lebih suka mengajar dengan metode tradisional. Oleh karena itu, pada hari-hari berikutnya saya mencoba untuk mengenalkan kepada mereka media pembelajaran berbasis teknologi. Para guru disana sangat antusias dengan hal ini.
Selama di Banhuaysiet School, saya banyak belajar tentang ajaran Budhisme yang tertanam kuat pada Masyarakat Tahiland. Salah satu kebiasaan yang melekat pada umat Budha adalah meditasi, dimana hal ini dapat membantu kita dalam mendapatkan ketenangan. Anak-anak di Banhuaysiet School akan melakukan meditasi setiap sehabis makan siang setiap harinya. Saya juga ikut serta dalam berbagai kegiatan selama disana, baik kegiatan sekolah maupun kegiatan keagamaan. Beberapa kegiatan sekolah yang saya ikuti yaitu perayaan Budhist Lent Day, Thai Mother day, dan one day trip ke 2 universitas yang ada di Surat Thani Bernama Rajhabat University dan Prince of Songkla University.
Tak hanya mengikuti kegiatan yang diadakan oleh sekolah, saya juga mencoba untuk mengadakan kegiatan di Sekolah dengan mengadakan perayaan kemerdekaan Indonesia. Dengan persetujuan dari Kepala Sekolah dan dukungan dari para guru-guru, kegiatan perayaan kemerdekaan Indonesia berjalan dengan baik.
Setelah mendedikasikan diri selama selama satu bulan untuk memberikan pengajaran Bahasa inggris bagi para murid di Banhuaysiet, akhirnya dihari-hari terakhir sebelum kepulangan ke Indonesia saya diajak mengunjungi beberapa tempat wisata yang terkenal di Thailand. Saya bersama teman saya dan 2 guru Banhuaysiet mengunjungi Ao Nang Beach, Fossil Beach, dan Phudam yang menjadi ikonik provinsi Krabi.
Siti Aisah (Sekolah Muslim Santitham Foundation, Nakhon Si Thamarat)
Saya merasa sangat beruntung dan bahagia karena mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan KKN Internasional di Thailand. Ini adalah pengalaman pertama saya bepergian keluar negeri, dan saya tidak bisa merasa lebih bersyukur atas kesempatan ini. Awalnya, saya harus beradaptasi dengan makanan yang memiliki rasa yang berbeda, tetapi seiring berjalannya waktu, saya menemukan banyak makanan yang sangat lezat, seperti Somtam, yang membuat saya ingin kembali ke Thailand hanya untuk menikmatinya.
Salah satu hal yang paling berkesan dari kegiatan ini adalah bagaimana saya berhasil meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris saya. Berinteraksi dengan orang-orang lokal yang berbicara bahasa Inggris dengan aksen berbeda benar-benar membantu saya merasa lebih percaya diri dalam berkomunikasi dalam bahasa tersebut. Ketika saya tiba di Thailand, saya disambut dengan sangat hangat oleh pihak sekolah dan masyarakat setempat. Mereka memberikan perhatian yang luar biasa terhadap kami, para peserta KKN Internasional.
Selama di Thailand, saya juga terlibat dalam berbagai kegiatan yang sangat menyenangkan seperti kegiatan festival olahraga, menjadi pembicara di seminar guru fardu ‘Ain, dan masih banyak lainnya. Ada juga kenangan yang paling mendalam adalah saat saya diberi kesempatan untuk mengajarkan pencak silat, seni bela diri asli Indonesia, di sana. Menjadi bagian dari festival olahraga di Thailand adalah pengalaman yang luar biasa. Saya bahkan diberi kesempatan untuk tampil di acara pembukaan festival tersebut, yang tentu saja menjadi momen yang tak terlupakan. Melihat ribuan orang bersorak sambil saya mempersembahkan pencak silat, benar-benar membuat saya merasa bangga sebagai wakil dari Indonesia.
Namun, ada juga berbagai kejadian lucu selama saya mengajar di Thailand, baik saat melatih pencak silat maupun saat mengajar di kelas. Siswa SD yang begitu berisik dan sulit diatur, membuat saya harus benar-benar ekstra sabar. Tapi itulah bagian dari pengalaman yang membuat kita tumbuh dan belajar. Selain itu, mereka yang mengajarkan saya bahasa Thailand juga memberikan kesan tersendiri. Belajar bahasa baru selalu menjadi tantangan yang menarik, dan saya merasa beruntung bisa memiliki guru-guru yang sabar di sana.
Sistem pendidikan pondok di sana tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, yang membuat saya merasa nyaman. Fasilitas sekolah sangat lengkap dan mendukung untuk aktivitas baik di dalam maupun di luar kelas. Semua siswa dan guru dapat menikmati fasilitas itu secara gratis. Mulai dari alat bantu belajar, makan siang untuk tingkat TK – SD. Kemudian air mineral dingin disediakan untuk semua pihak dan dapat mengambilnya di mesin yang telah disediakan. Kemudian pada waktu Istriahat siang, siswa akan melaksanakan shalat dzuhur berjamaah di kelas masing-masing bersama wali kelas yang telah ditentukan.
Keseluruhan pengalaman ini telah memberikan dampak positif yang besar pada diri saya sekaligus membuka mata saya lebih luas terhadap budaya dan kehidupan di Thailand, sambil tetap mengenalkan kekayaan Indonesia. Saya akan selalu mengenang kenangan indah ini dengan penuh rasa syukur Jika diberi kesempatan, saya pasti akan kembali ke Thailand setelah lulus. Terima kasih kepada semua yang telah membuat pengalaman ini menjadi begitu berharga dan berkesan bagi saya.
Annisa Cikal Mujahidah (Sekolah Kuldeesat, Krabi)
Hari Rabu dini hari kami berlima, peserta Kukerta Internasional Thailand berangkat dari bandara Soekarno Hatta menuju Bangkok untuk melakukan transit dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju bandara Krbai Thailand Selatan. Sesampai disana kami, semua peserta dari berbagai universitas pilihan menuju Sekolah pusat untuk melakukan pembukaan sekaligus penyerahan peserta untuk ke sekolah penempatan nya masing-masing.
Sama halnya dengan saya. Kuldeesat Krabi School merupakan sekolah Prathom tempat saya akan mengabdi dan mengajar selama kurang lebih satu bulan selama di Thailand. Sekolah yang tidak terlalu besar namun cukup nyaman dengan lingkungan yang menyenangkan.Sekolah ini terdiri dari Prathom 1 sampai 5, Prathom merupakan sebutan tingkatan Sekolah Dasar di Thailand.
Hari pertama kedatangan saya ke sekolah disambut dengan sangat hangat oleh mereka, ya guru, siswa, kepala sekolah dan juga pemilik sekolah terlihat antusias saat kedatangan saya disana. Di hari yang sama sama diperkenankan untuk memperkenalkan diri secara resmi di lapangan, dihadapan langsung seluruh warga sekolah. Sedikit harap-harap cemas saya rasakan, namun diluar ekspetasi ternyata penyambutan yang saya dapatkan sangat luar biasa.
Begitu perkenalan selesai saya lanjut berkenalan dengan guru pamong yang akan membantu saya nantinya, Miss Linda. Beliau orang yang sangat baik dan pengertiaan. Saya berdiskusi dengan nya terkait pembelajaran bahasa inggris. Hari pertama mengajar, saya turut memperkenalkan diri di tiap kelas yang akan saya masuki. Saya mengajar semua kelas mata pelajararan Bahasa Inggris sesuai jadwal yang sudah ada Guru pamong selalu menemani dan membantu saya dalam berkomunikasi dengan siswa yang mayoritas tidak pandai berbahasa inggris, sehingga saya menggunakan bantuan teknologi yaitu google terjemahan untuk berkomunikasi.
Saat hari-hari besar di Thailand pun saya diikutsertakan untuk memeriahkan, seperti hari Mother Days yang diadakan di sekolah saya ikut melihat berbagai pertunjukkan yang dilakukan siswa-siswi disana, hal paling menyenangkan adalah saat saya ikut membantu berjualan di bazzar yang ada di sekolah. Saya mengajar bahasa inggris dengan materi buku paket Thailand, walaupun mengalami beberapa kendala dan kesulitan namun hal tersebut dapat ditangani.
Pada saat hari libur pun saya diajak berkeliling dan melakukan beberapa hal. Pernah satu waktu saya membantu ibunya kepala sekolah untuk berkebun dan menanam beberapa tanaman. Kebetulan saat disana saya ditempatkan untuk tinggal bersama ibunya kepala sekolah, rasanya seperti memiliki ibu kedua, beliau sangat baik dan perhatian. Saya juga sering membantunya memasak dan betukar masakan Indonesia dan Thailand.
Disana tempat tinggal dan makanan sehari-hari saya terjamin, baik itu halalnya karena daerah yang saya tinggali merupakan kawasan mayoritas muslim. Saya mendapat banyak sekali pengalaman dan kenangan yang menyenangkan selama mengikuti kegiatan Kukerta ini. Hal itu seperti saya dapat mengikuti kultur budaya Thailand yang terbilang unik. Saya juga dapat mencoba beberapa makanan Thailand.
Begitu waktu kepulangan saya tinggal menghitung hari, banyak dari mereka yang memberi saya hadiah, seperti guru pamong saya membelikan saya baju, ibunya kepala sekolah membawakan saya banyak makanan untuk di Indonesia, bahkan siswa-siswi sekolah pun banyak yang memberi saya hadiah kecil-kecilan seperti makanan ringan, stiker, alat tulis, bahkan surat untuk saya.
