Nomophobia (No Mobile Phone Phobia) di UIN Banten

-

Peneliti: Dr. Yogi Damai Syaputra, M.Pd

Tantangan era revolusi industry 5.0 ilmu pengetahuan dan teknologi melaju dengan sangat pesat, kondisi ini ditandai dengan banyak produk-produk teknologi terbaru yang bermunculan. Teknologi yang popular digunakan pada saat ini adalah handphone/smart phone. Handphone sudah menjadi kebutuhan hidup yang sangat penting bagi seseorang. Handphone dapat memfasilitasi seseorang untuk dapat berkomunikasi dan dapat memberikan tingkat mobilitas yang memungkinkan penggunanya dapat dihubungi setiap saat.

Pengguna smartphone umumnya melihat perangkat seluler mereka sebagai perpanjangan dari diri mereka sendiri. Smartphone memberikan peluang dan kenyamanan bagi pengguna: berbagai kemudahan dapat nikmati, mendapatkan informasi baru, manfaat sosial, kegiatan hiburan dan peningkatan diri. Selain itu, smartphone dapat membantu orang dalam penyelesaian tugas dan perolehan koneksi terus menerus dengan jarak jauh orang lain yang signifikan. Dengan adanya smartphone mobile, para pengguna smartphone ini, memiliki rasa nyaman dan aman dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, mereka menjadi aman secara emosional dengan kehadiran smartphone karena dapat mengurangi rasa kesepian dan kebosanan dengan menghabiskan waktu di alat perpesanan online seperti Viber, Whatsapp,Telegram, dll dan bahkan bisa mendapatkan popularitas di jejaring sosial berbasis web seperti Facebook, Instagram, Twitter, YouTube, situs web Google. Dengan demikian, perangkat seluler ini secara bertahap menjadi bagian integral dari kehidupan manusia modern.

Kondisi tersebut membuat pengguna handphone memiliki kecenderungan untuk menggunakan handphone secara berlebihan. Penggunaan handphone secara berlebihan akan membuat seseorang mengalami yang namanya nomophobia. Nomophobia merupakan kecemasan dan ketakutan yang dialami oleh seseorang karena tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain melalui handphone, kehilangan jaringan atau konektivitas, tidak dapat mengakses informasi dan terlalu menikmati kenyamanan yang disuguhkan oleh handphone. Ketika pengguna handphone tidak bisa menggunakan operasikan handphone, maka disanalah akan muncul banyak permalahan. Orang dengan gejala nomophobia ini akan memunculkan perilaku gelisa, takut dan khawatir, meningkatnya depresi dan kecemasan.

Nomophobia dapat dialami oleh semua orang tanpa memandang usia dan status, baik anak-anak, remaja maupun orang dewasa. Dilansir dari media Indonesia Kementerian Komunikasi dan Informatika menyatakan bahwa 89% penduduk Indonesia menggunakan smartphone. Pernyataan ini didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan media asal inggris We are Social bekerjasama dengan hootsuite melaporkan bahwa 202,6 juta pengguna internet di Indonesia, 96,4% diantaranya menggunakan smartphone untuk mengakses internet dengan durasi waktu rata-rata perhari adalah 8 jam 52 menit. Indonesia termasuk 10 besar Negara yang mengalami kecanduan media sosial dari 47 negara yang diteliti. Pengguna terbanyak itu mereka yang berstatus sebagai pelajar.

Nomophobia juga bisa menyerang anak-anak dalam dunia pendidikan. Mereka yang saat ini lebih banyak menggunakan handphone dalam pembelajaran cenderung akan mengalami nomophobia. Nomophobia ini juga memberikan keresehan dalam belajar. Banyak yang tidak fokus dalam belajar, motivasi belajar menjadi rendah, terjadinya prokrastinasi akademik. Secara sosial orang dengan nomophobia akan kesulitan untuk berinteraksi sosial secara langsung karena lebih memilih untuk menyendiri. Handphone membuat yang dekat menjadi jauh dan yang jauh menjadi dekat. Hal ini membuat interkasi di lingkungan budaya sekitar akan terganggu. Orang-orang akan sibuk dengan dunianya sendiri memalui handphone. bahkan tidak memikirkan dan peduli dengan orang disekitarnya. Inilah beberapa gambaran kondisi dampak dari nomophobia.

Nomophobia dalam penelitian ini ditinjau perbedaanya berdasarkan jenis kelamin dan budaya akademik fakultas yang ada di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan questioner nomophobia kepada 988 orang mahasiswa UIN Banten yang terdiri dari angkatan 2019, 2020 dan 2021. Data dikumpulkan selama lebih kurang 1 bulan ini melalui media google form. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji independent sampel t tes, analisis one way anova dan two way anova.
Beradasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa rata-rata tingkat nomophobia mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten berada pada kategori tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan juga mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan nomophobia antara laki-laki dengan perempuan. Laki-laki dan perempuan memiliki tingkat nomophobia yang tinggi. Namun perempuan lebih memiliki kecenderungan untuk mengalami nomophobia dibandingkan dengan laki-laki. Kemudian ditinjau berdasarkan budaya akademik fakultas ternyata tidak terdapat perbedaan nomophobia. Artinya nomophobia mahasiswa di lingkungan Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin banten sama dan secara rata-rata berada pada kategori tinggi. Jika ditinjau secara silmultan tidak terdapat interaksi nomophobia berdasarkan jenis kelamin dan budaya akademik fakultas dalam menentukan tingkat nomophobia.

Temuan penelitian bisa dijadikan sebagai studi pendahuluan bagi peneli berikutnya dan bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan oleh UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten dalam menindaklanjuti temuan dengan memberikan perlakuan untuk menguruangi nomophobia pada mahasiswa salah satu melalui pelayanan bimbingan dan konseling. Peneliti menyarankan kepada pihak lembaga untuk mendirikan labor bimbingan konseling yang bisa digunakan dan dimanfaatkan untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh para mahasiswa terutama masalah kecanduan akan handphone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita terbaru

PkMPP UIN SMH Banten Gelar Pelatihan Inovasi dan Pemanfaatan Perkarangan Rumah Produktif

Serang, 4 Februari 2024 – Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat dan Pengembangan Perdesaan (PkMPP) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat...

Penyerahan Sertifikasi Halal Hasil Kuliah Kerja Nyata: Dorong Produk Lokal Pandeglang Go Nasional

Pandeglang, 6 Desember 2024 – Kantor Kecamatan Cadasari menjadi saksi antusiasme para pelaku usaha lokal yang menerima sertifikat halal...

Pengabdian Mahasiswa UIN SMH Banten di Desa Gunungkendeng: Meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat Melalui KUKERTA

Pada 2024, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten yang tergabung dalam kelompok Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA)...

PSGAD Sosialisasikan Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren Darul Iman, Pandeglang

Pusat Studi Gender, Anak dan Difable, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UIN Sultan Maulana Hasanuddin, melaksanakan Kegiatan Literasi Pencegahan...

PPkMPP Beri Pembekalan Peserta Kukerta Kolaborasi Internasional Thailand

  Serang, 10 Juni 2024 Bertempat di ruang rapat LP2M UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Pusat Pengabdian kepada Masyarakat dan Pengembangan...

PkMPP LP2M UIN SMH Banten Gelar Pelatihan Penaggulangan Kemiskinan Ektrem

Bertempat di Aula Kantor Desa Citalahab, Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang, Pusat Pengabdian kepada Masyarakat dan Pengembangan Perdesaan (PkMPP) menyelenggarakan...

Wajib baca

PkMPP UIN SMH Banten Gelar Pelatihan Inovasi dan Pemanfaatan Perkarangan Rumah Produktif

Serang, 4 Februari 2024 – Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat...

Penyerahan Sertifikasi Halal Hasil Kuliah Kerja Nyata: Dorong Produk Lokal Pandeglang Go Nasional

Pandeglang, 6 Desember 2024 – Kantor Kecamatan Cadasari menjadi...