Penggunaan Media Sosial dalam Pembelajaran Bahasa

-

Peneliti: Naf’anTarihoran, dkk

Mengeksplorasi kesiapan dan akses mahasiswa untuk pembelajaran online di Perguruan Tinggi Islam sangat menarik dan mendapat tantangan tersendiri. Pasca Pandemi covid-19, hampir seluruh aspek dalam kehidupan sehari-hari mengalami perubahan, termasuk dalam dunia pendidikan. Bagaimana akses dan kesiapan tenaga pengajar dan mahasiswa dalam pembelajaran online? Apakah media sosial yang sudah “terlanjur” bersahabat dengan mahasiswa dapat digunakan sebagai alat dalam pembelajaran?

Penelitian ini dengan menggunakan metode campuran (mixed-method) mengeksplorasi tentang akses siswa, kepemilikan perangkat komputasi, dan tingkat keakraban dengan teknologi terkait pembelajaran. Dengan mengambil lokus penelitian di Universitas Islam negeri (UIN) Syarif Hidaytullah Jakarta dan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, data kuantatitaf diambil dengan menggunakan survei kepada 262 (F=207, M=55) mahasiswa dan data kualitatif berupa wawancara dengan 5 (lima) orang dosen di program studi pendidikan bahasa Inggris.

Hasil penelitian menunjukkan siswa memiliki persepsi yang positif terhadap pembelaran online, khususnya dengan menggunakan media sosial Facebook. Skor rata-rata tertinggi (3,52) adalah untuk domain “Menggunakan Facebook untuk meningkatkan menulis,” menunjukkan bahwa mahasiwa memiliki pandangan positif terhadap Facebook karena memberi mereka kepercayaan diri yang mereka butuhkan untuk berbicara, menulis, dan memposting dalam bahasa Inggris. Karena Facebook adalah alat bantu belajar bahasa berbasis komputer, mahasiswa mengakui bahwa hal itu meningkatkan kecenderungan mereka untuk menulis.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa mahasiswa lebih suka menggunakan komputer untuk menulis daripada di kertas (seperti menusi biasa), karena menurut mahasiswa betapa mudahnya mengubah teks di komputer diubah dengan menggunakan aplikasi yang tersedia. Oleh karena itu, bagaimanapun penggunaan teknologi di kelas telah mengubah cara pelajaran dan tugas terstruktur, menjadi lebih menantang bagi mahasiswa untuk menjaga konsistensi sambil mendukung dosen. Dalam kenyataannya, mahasiswa menggunakan teknologi seluler secara intensif dimana dan kapanpun, ditambah lagi, dengan pengalaman menggunakan berbagai media sosial; tetapi sayangnya, mahasiswa tidak terbiasa dengan penggunaan media sosial sebagai alat dalam pembelajaran.

Belajar bahasa asing membutuhkan tidak hanya transfer keterampilan dan pengetahuan, tetapi konsep yang signifikan dari satu bahasa ke bahasa lain bagi mahasiswa yang mempelajari bahasa asing. Dalam pembelajaran bahasa asing, guru harus memberikan instruksi yang membangun dasar yang kuat untuk pemahaman baik dalam bahasa pertama dan bahasa target (language target). Mahasiswa diharapkan dapat terlibat dalam interaksi yang bermakna, menggunakan bahasa target untuk pertukaran interpersonal, melakukan komunikasi verbal, merekonstruksi kalimat yang dipelajari dan menggunakannya dalam komunikasi kehidupan nyata.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasisa memiliki sikap positif terhadap pembelajaran akses mandiri, konsultasi individu, dan pendirian pusat akses mandiri yang terkoneksi dengan jejaring. Untuk memantau pembelajaran mereka, pemberian kuis secara berkala adalah wajib untuk menghidari penggunaan media sosial menjadi permainan biasa (gaming). Apabila memungkinkan, mendirikan pusat akses mandiri merupakan ide yang baik karena akan menjadi tempat ideal bagi mahasiswa untuk mengakses sumber daya bahasa Inggris. Namun, kepraktisan dan esensinya patut diteliti lebih lanjut dengan memperhatikan keamanan dan penggunaan media sosial yang aman.

Dalam penelitian ini, penelitian mengabaikan faktor penting lainnya seperti gaya belajar mahasiswa (learning style) dan persepsinya tentang evaluasi diri. Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa mengatakan bahwa beberapa motivasi dari tulisan di media sosial menjadi pengerah untuk terus belajar.

Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa implikasi pedagogis adalah: 1) di masa depan, dosen harus memberikan mahasiwa kebebasan untuk mencari materi yang relevan dengan alasan untuk belajar yang konsisten dengan mereka, sesuai kebutuhan dan tujuan pribadi masing-masing. Mereka juga harus membantu mahasiswa untuk memeroleh keterampilan dan strategi untuk menjadi pembelajar yang mandiri dan terarah.

2) Dosen perlu berinteraksi langsung dengan mahasiswa yang sikap, nilai, dan keyakinannya tampaknya tidak mencakup keinginan untuk belajar atau untuk mandiri dalam pembelajaran mereka dan menumbuhkan perubahan sikap. 3) Last but not least, mereka harus membantu mahasiswa mengalami keberhasilan belajar yang membangun persepsi mereka tentang kompetensi, kontrol dan nilai. Mereka harus fokus pada peningkatan meta-kognisi mahasiswa untuk mempersiapkan mereka mendekati otonomi belajar mereka sendiri.

Dalam proses pembelajaran, dosen memegang peranan yang sangat penting. Dalam penerapan model media sosial, selain dosen yang berupaya meningkatkan kemampuan mahasiswa dengan menyesuaikan metode pengajaran dengan kebutuhan mahasiswa. Selain itu, penggunaan teknologi dan internet juga berperan dalam meningkatkan motivasi mahasiswa khususnya dalam pembelajaran bahasa Inggris.

Penelitian ini memberikan rekomendasi kepada pimpinan perguruan tinggi untuk pentingnya konteks budaya literasi dan mendesain e-learning menarik. Selain itu, diharapkan adanya kesiapan sarpras yang memadai yang menunjang pembelajaran berbasar multimedia di PTKIN Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita terbaru

PkMPP UIN SMH Banten Gelar Pelatihan Inovasi dan Pemanfaatan Perkarangan Rumah Produktif

Serang, 4 Februari 2024 – Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat dan Pengembangan Perdesaan (PkMPP) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat...

Penyerahan Sertifikasi Halal Hasil Kuliah Kerja Nyata: Dorong Produk Lokal Pandeglang Go Nasional

Pandeglang, 6 Desember 2024 – Kantor Kecamatan Cadasari menjadi saksi antusiasme para pelaku usaha lokal yang menerima sertifikat halal...

Pengabdian Mahasiswa UIN SMH Banten di Desa Gunungkendeng: Meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat Melalui KUKERTA

Pada 2024, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten yang tergabung dalam kelompok Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA)...

PSGAD Sosialisasikan Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren Darul Iman, Pandeglang

Pusat Studi Gender, Anak dan Difable, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UIN Sultan Maulana Hasanuddin, melaksanakan Kegiatan Literasi Pencegahan...

PPkMPP Beri Pembekalan Peserta Kukerta Kolaborasi Internasional Thailand

  Serang, 10 Juni 2024 Bertempat di ruang rapat LP2M UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Pusat Pengabdian kepada Masyarakat dan Pengembangan...

PkMPP LP2M UIN SMH Banten Gelar Pelatihan Penaggulangan Kemiskinan Ektrem

Bertempat di Aula Kantor Desa Citalahab, Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang, Pusat Pengabdian kepada Masyarakat dan Pengembangan Perdesaan (PkMPP) menyelenggarakan...

Wajib baca

PkMPP UIN SMH Banten Gelar Pelatihan Inovasi dan Pemanfaatan Perkarangan Rumah Produktif

Serang, 4 Februari 2024 – Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat...

Penyerahan Sertifikasi Halal Hasil Kuliah Kerja Nyata: Dorong Produk Lokal Pandeglang Go Nasional

Pandeglang, 6 Desember 2024 – Kantor Kecamatan Cadasari menjadi...